Rabu, 27 Juni 2012

Dongeng: Terjadinya Angin Puting Beliung

Dongeng ini saya buat sebagai tugas mata kuliah sejarah fisika, jadi mohon maaf kalau sedikit ngawur. Selamat membaca ;)


Pada jaman dahulu kala, dewa-dewi di kahyangan hidup layaknya manusia di bumi. Mereka saudara dan bercocok tanam. Para dewa dan manusia hidup rukun dengan damai. Para dewa sering turun ke bumi untuk memberi sebagian hasil panen mereka kepada manusia. Begitu pula pada musim panen di bumi, manusia akan membuat pesta dan mengundang para dewa untuk menikmati hasil panen mereka. Putra-putri para dewa pun berteman baik dengan anak manusia. Mereka sering bermain bersama di bumi saat hari cerah.
Di sebuah desa kecil  yang subur di bumi, terdapat seorang anak saudagar kaya yang cantik jelita bernama Anika. Anika adalah putri semata wayang saudagar tersebut. Ibunya telah meninggal sejak ia masih kecil dan ayahnya sering berdagang di negeri-negeri yang jauh selama berbulan-bulan. Anika sering merasa kesepian karena hanya ditemani pembantu rumah tangga sehingga ia sering mengajak teman-temannya bermain di rumahnya dan menghidangkan makanan-makanan enak. Selain itu, ia senang meminjamkan mainan-mainan yang dimilikinya kepada teman-temannya. Mainan-mainan itu adalah pemberian ayahnya setiap kali pulang berdagang di negeri Seberang. Oleh karena itu, mainan-mainan Anika bagus dan jarang dimiliki anak lain di desanya sehingga Anika banyak disukai teman-temannya. Akan tetapi, Anika mempunyai sifat buruk yaitu suka membeda-bedakan teman. Dia hanya mau berteman dengan sesama anak saudagar atau dengan putra-putri dewa kahyangan. Dia  juga tidak suka dengan anak yang pemalu karena dia mengangggap anak itu membosankan.
Suatu hari, Dewa Elioth, Dewa Barma, Dewi Eida, dan Dewi Rea, datang berkunjung ke rumah Anika. Keempat putra-putri Dewa tersebut ingin bermain dengannya di taman bunga di halaman belakang rumah Anika. Di depan pintu,  Dewa Barma mengetuk pintu rumah Anika. Seorang pembantu rumah tangga paruh baya membuka pintu untuk keempat dewa tersebut. Setelah Dewa Elioth menyampaikan maksud kedatangan mereka, si pembantu rumah tangga mengantar keempat dewa menuju ke halaman belakang.
Dewi Eida seorang dewi yang pemalu. Bagi Dewi Eida, ini adalah kunjungan pertamanya ke rumah Anika. Ia sangat gugup dan sedikit takut. Dia sudah mendengar kabar tentang sifat buruk anika. Kedatanganya ke rumah Anika ini pun karena bujukan teman-temannya. Oleh karena itu, ia berjalan di samping Dewi Rea sambil menggemgam erat tangan temannya itu.
Sesampainya di halaman belakang, mereka melihat banyak anak saudagar berkumpul di sana. Si pembantu mempersilakan keempat dewa tersebut bergabung dengan Anika dan teman-temannya kemudian ia memohon diri untuk meneruskan pekerjaannya. Melihat keempat tamunya yang masih berdiri di pintu belakang, Anika segera menghampiri tamunya. Dengan senyum tulus di wajahnya, Anika menyapa tamunya,” Selamat pagi, apa kabar semuanya?”
“Selamat pagi Anika,” jawab Dewa Elioth,” Kami baik kamu apa kabar?”
“Anika juga baik.” Ucap Anika.
“Anika, boleh kami ikut main?” tanya Dewi Rea.
Anika menoleh kepada Dewi Rea. Saat itulah matanya memandang Dewi Eida yang berdiri menunduk di belakang Dewi Rea. Melihat pandangan mata Anika yang tertuju langsung pada Dewi Eida, Dewa Barma segera berusaha mengalihkan perhatian dan berkata, ”Perkenalkan, Dia adalah Dewi Eida, putri dari Dewa Angin. Dia baru pertama berkunjang ke sini. Ah,,, sudahlah. Jadi, apakah kita boleh bergabung?”
Anika menoleh pada Dewa Barma. Ia tersenyum. “Boleh kok, silakan saja kalau dewa-dewi ingi bermain dengan Anika. Tapi...” ucap Anika. Ia menggantung kalimatnya sambil menatap tajam pada Dewi Eida. Dewi Eida semakin gugup dan tidak berani memandang mata Anika. “Tapi Dewi Eida tidak boleh ikut main.” Lanjut Anika sambil tersenyum kepada Dewi Eida.
“Kenapa? Dewi Eida adalah teman kita.” ucap Dewa Elioth.
“Iya, Dewa Elioth benar. Dewi Eida adalah dewi yang sangat menyenangkan.” kata Dewi Rea menyambung perkataan Dewa Elioth.
“Cobalah sekali saja bermain dengan Dewi Rea, kau pasti menyukainya.” Ujar Dewa Barma.
“Aku tidak mau.” ucap Anika ketus.
“Ya sudah, kalau kamu tidak mengijinkan aku ikut main.” ucap Dewi Eida,” Teman-teman aku pulang dulu, kalian bersenang-senanglah.”
Setelah mengatakan itu, Dewi Eida berbalik dan berjalan meninggalkan ketiga temannya. Ia menyusuri jalan yang tadi dilaluinya. Sang pembantu yang baik hati membukakan pintu dan meminta maaf atas kesalah putri majikannya tersebut. Dewi Aida mengiyakan kemudian pamit pulang.
Dewi Eida terbang ke kahyangan seorang diri. Tiba-tiba ia meras sangat kesepian dan  merasa tidak memiliki teman. Ia sangat sedih hingga tak dapat lagi menahan air mata yang ditahannya sejak ia berada di rumah Anika. Ia tidak boleh menangis di depan Anika karena itu akan membuat Anika senang. Begitu pikirnya.
Dewi Eida tidak langsung pulang, ia bersembunyi di salah satu sudut taman kahyangan. Tempat itu adalah tempat rahasianya dengan teman-temannya bila sedang bersedih. Ia menangis sejadi-jadinya di tempat rahasianya itu. Kesedihan dan tangisan Dewi Eida membuat awan-awan berubah menjadi gelap dan hujan di bumi. Saat sedang menangis, ia mendengar sebuah suara yang memanggilnya dengan halus. Ia menengadahkan wajahnya. Ia melihat ketiga temannya berdiri di depannya sambil tersenyum.
“Sudah, jangan menangis. Kami ada di sini bersamamu.” bujuk  Dewa barma.
“Kenapa kalian ada disini? Harusnya kalian berada di rumah Anika?” tanya Dewi Eida.
Dewi Rea kembali tersenyum. Ia berjongkong dan memeluk Dewi Eida. Dewi Rea berkata,” Bagaimana bisa kami bersenang-senang di rumah Anika sedang kau menangis sendirian disini. Kita sudah seperti saudara jadi kami tidak akan membiarkan kau sendirian.”
“Sudah jangan menangis. Awan jadi gelap dan sekarang di bumi turun hujan karena tangisanmu tahu.” ledek Dewa Barma. Dewi Eida tersenyum mendengar ledekan Dewa Barma.
“Nah, kalau tersenyum kan langit cerah. Sekarang ayo kita pulang sebelum bunda-bunda kita marah.” ajak Dewa Elioth. Dewi Eida mengangguk. Kemudian Dewa Elioth dan Dewa Barma membantu kedua dewi berdiri. Dewi Eida pulang ke rumah di antar ketiga temannya.
Sesampainya di rumah, Dewi Eida langsung permisi dan masuk kamar. Ia tidak ingin kedua orangtuanya melihat wajahnya. Akan tetapi sudah terlambat, Ibunda Dewi Eida melihatnya masuk kamar. Ibundanya segera menyusul tetapi Dewi Eida sudah menutup pintu kamarnya. Ibunda Dewi Eida melongok keluar, dilihatnya ketiga teman putrinya berada di luar. Beliau bergegas menghampiri ketiga dewa itu. Beliau bertanya penyebab putrinya menangis kepada ketiga dewa itu. Dewa Elioth menjelaskan kejadian di rumah Anika itu kepada ibunda Dewi Eida. Ibunda Dewi Eida mengangguk-angguk mendengar cerita Dewa Elioth. Beliau berpesan kepada ketiga dewa itu untuk menyembunyikan kejadian tersebut dari ayah Dewi Eida, Dewa Angin, agar tidak terjadi bencana yang besar. Ketiga dewa itu berjanji tidak cerita kepada siapapun kemudian berpamitan pulang.
Sejak hari itu, sudah dua hari berlalu. Dewi Eida masih saja murung sehingga awan menjadi gelap. Ketiga temannya setiap hari datang untuk menghibur Dewi Eida tetapi Dewi Eida terus murung. Sikapnya selam dua hari ini berubah sangat drastis. Ia tidak menanggapi ledekan Dewa Barma seperti biasanya, menolak ajakan Dewi Rea untuk belajar menyulam dan mengiyakan semua nasehat Dewa Elioth.
Ibunda Dewi Eida sangat prihatin melihat kondisi putrinya. Beliau tidak tahu lagi alasan apa yang harus dikatakan kepada Dewa Angin bila mengetahui putri kesayanganya bersedih karena anak manusia menghinanya. Memang selama dua hari ini Dewa Angin sedang bertugas di kahyangan sebelah timur.
Pada hari kedua, Dewa Angin pulang ke rumahnya. Dewa Angin yang sudah sangat merindukan putrinya segera menuju kamar Dewi Eida. Saat membuka pintu, dilihatnya Dewi Eida sedang tiduran diranjangnya dengan malas. Matanya sembab dan wajahnya terlihat murung. Dewa Angin sangat terkejut dan meninggalkan Dewi Eida. Beliau menemui istrinya, ibunda Dewi Eida, berharap menemukan alasan mengapa putrinya murung. Ketika bertanya, sang istri hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Dewa Angin mulai marah karena pertanyaannyaa tidak kunjung dijawab oleh sang istri. Dewa Angin berjalan keluar.
Dewa Angin menuju ke taman kahyangan tempat anak-anak dewa biasa bermain. Beliau melihat ketiga teman baik putrinya sedang duduk di ayunan di pojok taman. Beliau menghampiri ketiganya. Ketiga dewa itu terkejut melihat Dewa Angin telah berdiri di hadapan mereka. Dewa Angin memaksa mereka memberi tahu penyebab putrinya murung. Karena takut, Dewa Barma akhirnya menceritakan semua kejadian di rumah Anika.
Mendengar cerita dari Dewa Barma, Dewa Angin sangat marah. Dewa Angin segera turun ke bumi mengendarai awan hitam yang bergerak dengan cepat. Dewa Angin yang menguasai angin Di bumi dan kahyangan segera menggerakkan angin berputar seperti spiral dan kelamaan semakin cepat. Setelah angin menjadi besar, beliau menggerakkan angin itu menuju ke desa tempat tinggal Anika. Penduduk desa sangat ketakutan melihat angin itu. namun, kemarahan dewa angin telah sampai puncaknya. Ia gerakkan angin hingga memporakporandakan seluruh desa. Setelah desa tersebut hancur, angin itu pun ikut menghilang. Sedangkan Dewa Angin segera kembali ke kahyangan. Sejak saat itu, angin itu dikenal dengan angin puting beliung. Dan sejak saat itu pula, dewa-dewa tidak pernah lagi turun ke bumi. Mereka hidup sendiri-sendiri di dunia mereka.

= The End =


Konsep IPA:
Angin puting beliung adalah angin kencang yang datang secara tiba-tiba dan bertekanan tinggi, mempunyai pusat, bergerak secara melingkar seperti spiral hingga menyentuh permukaan bumi dan menghilang dalam waktu yang singkat. Angin ini berasal dari awan comulusnimbus yang berwarna gelap dan menjulang tinggi.

Pesan Moral:
Jangan suka membeda-bedakan teman

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar